Minggu, 22 April 2012

Tuhan...Beri aku waktu 1 jam saja...



 Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan terkumuh diseluruh kota .

  Ada sebuah kisah yang menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil.

 Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia
bukan penduduk asli disitu, mela inkan dibawa oleh suaminya
dari kampung halamannya.

 Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka, dan
belum  setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh  uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka  tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.

 Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba
di sebuah jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti  memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

 Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yang dingin. Ketika mereka
beristirahat dibawah atap toko itu, sang suami berkata: "Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur disini."
 Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah kembali.

 Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi, tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang
terus menunggu kedatangan suami nya, dan bila malam tidur di emperan toko itu.

 Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu ,orang-orang yang lewat mulai memberi mereka
uang kecil, dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan
 berikutnya.
 Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk
mendapatkan
 kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit dan
memutuskan
 untuk bekerja.

 Masalahnya adalah di mana ia harus menitipkan
anaknya, yang
 kini sudah hampir 2 tahun, dan tampak amat cantik
jelita.
 Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan
anak
 itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk
 keadaan mereka.
 Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia
tidak
 kemana-mana, tidak ikut siapapun yang mengajaknya
pergi
 atau menawarkan gula-gula.

 Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan
dengan
 siapapun selama ibunya tidak ditempat.

 "Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup
uang
 untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita
tidak
 lagi tidur dengan angin di rambut kita".
 Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh
kesungguhan.
 Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka
tinggal
 selama 7 bulan agar tampak kosong, dan membaringkan
anak
 nya dengan hati-hati di dalamnya.
 Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti.
 Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik
sepatu,
 di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.
 Begitu lah kehidupan mereka selama beberapa hari,
hingga di
 kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk
menyewa
 sebuah kamar berpintu di daerah kumuh.
 Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang
miskin
 itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi
siang itu
 juga sepasang suami istri pengemis yang moralnya
amat
 rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa, dan
 membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota .

 Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan
baju baru,
 membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan
membawanya ke
 sebuah rumah mewah
 dipusat kota .
 Di situ gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah
pasangan
 suami istri dokter yang kaya, yang tidak pernah bisa
punya
 anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18
tahun.

 
Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona, dan
mereka
 memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah
 kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh
dewasa. Ia
 belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti
 merangkai bunga, menulis puisi dan b erma in piano.Ia
 bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas, dan
 mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.

 Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya,dan
bumi
 terus berputar tanpa kenal istirahat.

 Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai
anak
 gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai b erma in
piano,
 yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan
gelar
 dokternya. Ia adalah figur gadis yang menjadi impian
tiap
 pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter
muda yang
 welas asih, yang bernama Geraldo.

 Setahun setelah perkimpoian mereka, ayahnya wafat,
dan
 Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa
perusahaan dan
 sebuah real-estate sebesar 14 hektar yang diisi
dengan taman
 bunga dan istana yang paling megah di kota itu.

 Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu
terjadi
 yang merubah kehidupan wanita itu.

 Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar
mendiang
 ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di
laci
 meja kerja ayah nya ia melihat selembar foto seorang
anak
 bayi yang digendong sepasang suami istri.
 Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu
lusuh, dan
 bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena
walaupun
 wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap
kusam.
 Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya
berdegup
 kencang.
 Ia mengambil kaca pembesar dan mengkonsentrasikan
 pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia
membuka
 lemarinya sendiri, dan mengeluarkan sebuah kotak
kayu
 mahoni.
 Di dalam kotak yang berukiran indah itu dia
menyimpan
 seluruh barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung
 berlian hingga surat-surat pribadi.
 Tapi diantara benda-benda mewah itu terdapat sesuatu
 terbungkus kapas kecil, sebentuk anting-anting
melingkar
 yang amat sederhana, ringan dan bukan emas murni.

 Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan
untuk
 tidak kehilangan benda itu.
Ia sempat bertanya,
kalau itu
 anting-anting, di mana satunya. Ibunya menjawab
bahwa hanya
 itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting
itu
 didekat foto.

 Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan
melihatnya dan
 perlahan-lahan air matanya berlinang . Kini tak ada
 keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya
sendiri.
 Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang
tersenyum
 dibuat-buat, belum penah dilihatnya sama sekali.
 Foto itu seolah membuka pintu lebar-lebar pada
ruangan yang
 selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanya annya,
misalnya:
 kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua
orang
 tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah
ayahnya.

 Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat
abad
 terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang
wanita
 membelai kepalanya dan mendekapnya di dada. Di
ruangan itu
 mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya
sekelilingnya
 tetapi ia juga merasa betapa hangatnya
 kasih say ang dan rasa aman yang dipancarkan dari
dada
 wanita itu.

 Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu
bahwa
 daripada berpisah lebih baik mereka mati bersama.

 Mata nya basah ketika ia keluar dari kamar dan
menghampiri
 suaminya yang sedang membaca koran: "Geraldo, say a
 adalah anak seorang pengemis, dan mungkinkah ibu
say a masih
 ada di jalan sekarang setelah 25 tahun?"

 
Itu adalah awal dari kegiatan baru mereka mencari
masa
 laluSerrafonna. Foto hitam-putih yang kabur itu
diperbanyak
 puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan
 kepolisian diseluruh negeri.

 Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang
cukup
 berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan
dukungan
 dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar
dan
 kantor catatan sipil.
 Ia membentuk yayasan -yayasan untuk mendapatkan data
dari
 seluruh panti-panti orang jompo dan
badan-badansosial di
 seluruh negeri dan mencari data tentang seorang
wanita.

 Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan
apapun
 dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis
25
 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta
bukan
 sesuatu yang mudah.
 Tapi Serrafona tidak punya pikiran untuk menyerah.
 Dibantu suaminya yang begitu penuh pengertian,
mereka terus
 menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini, tiap
kali
 bermobil, mereka sengaja memilih daerah-daerah
kumuh,
 sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik.

 Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum
sehingga
 ia tidak terlalu menanggung dosa mengabaikannya
selama
 seperempat abad.
 Tetapi ia tahu, entah bagaimana, bahwa ibunya masih
ada,
 dan sedang menantinya sekarang. Ia memberitahu
suaminya
 keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya
mengangguk-angguk
 penuh pengertian.

 Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan say a
 untuk satu permintaan terbesar dalam hidup say a:
temukan
  say a dengan ibu say a".

 Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka
menerimakabar
 bahwa ada seorang wanita yang mungkin bisa membantu
mereka
 menemukan ibunya. Tanpa membuang waktu, mereka
terbang ke
 tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu
merah, 600
 km dari kota mereka.

 Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yang
separoh buta
 itu, yang kini terbaring sekarat, adalah wanita di
dalam
 foto.
 Dengan suara putus-putus, wanita itu mengakui bahwa
ia
 memang pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi
jalan,
 sekitar 25 tahun yang lalu.

 Tidak banyak yang diingatnya, tapi diluar dugaan ia
masih
 ingat kota dan bahkan potongan jalan dimana ia
mengincar
 gadis kecil itu dan kemudian menculiknya. Serrafona
memberi
 anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah
uang, dan
 malam itu juga mereka mengunjungi kota dimana
Serrafonna
 diculik.

 
Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan
 orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu.
Semalaman
 Serrafona tidak bisa tidur.
 Untuk kesekian kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia
begitu
 yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang, dan sedang
 menunggunya, dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

 Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul
18:00
 senja, mereka menerima telepon dari salah seorang
staff
 mereka. "Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang
Tuhan
 mengijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu
Nyonya. Hanya
 cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi."

 Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi,
dipinggiran
  kota yang kumuh dan banyak angin. Rumah-rumah di
sepanjang
 jalan itu tua-tua dan kusam.
Satu, dua anak kecil
tanpa
 baju b erma in-main ditepi jalan.

 Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan
yang
 lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan
berikut
 nya yang lebih kecil lagi.
 Semakin lama mereka masuk dalam lingkungan yang
semakin
 menunjukkan kemiskinan. Tubuh Serrrafona gemetar, ia
seolah
 bisa mendengar panggilan itu. "Lekas, Serrafonna,
mama
 menunggumu, say ang".

 Ia mulai berdoa "Tuhan, beri say a setahun untuk
  mela yani mama. Saya akan mela kukan apa saja".

 Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih
kecil, dan
 ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat, ia
berdoa:
 "Tuhan beri say a sebulan saja".

 Mobil belok lagi kejalanan yang lebih kecil, dan
angin yang
 penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah
jendela
 mobil yang terbuka. Ia mendengar lagi panggilan
mamanya ,
 dan ia mulai
 menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak,
cukup
 beri kami seminggu untuk saling memanjakan ".

 Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya
menggigil
 begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat.
Jalan
 itu bernama Los Felidas.
 Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan
yang
 tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung. Di
 tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah
toko,
 tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik,
dan
 ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua
dengan
 pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.

 Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya
dan 3
 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah
ambulansberhenti,
 diikuti empat mobil rumah sakit lain.
 Dari kanan kiri muncul pengemis- pengemis yang
segera
 memenuhi tempat itu.

 "Belum bergerak dari tadi." lapor salah seorang.
 Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya
untuk
 meraih kesadarannya dan turun.
 Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar, memburu
ibu
 mertuanya.
 "Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi
kau
 harus menguatkan hatimu ."

 Serrafona memandang tembok dihadapann ya, dan ingat
saat ia
 menyandarkan kepalanya ke situ.
Ia memandang lantai
di kaki
 nya dan ingat ketika ia belajar berjalan.
 Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkan
nya
 pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar
ketika ia
 melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan
wanita yang
 terbaring itu dan memberinya isyarat untuk mendekat.

 "Tuhan, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,beri
 kami sehari...... Tuhan, biarlah say a membiarkan mama
 mendekap say a dan memberitahunya bahwa selama 25
tahun ini
 hidup say a amat bahagia....Jadi mama tidak
menyia-nyia kan
  say a".

 Ia berlutut dan meraih kepala wanita itu kedadanya.
 Wanita tua itu perlahan membuka matanya dan
memandang
 keliling, ke arah kerumunan orang-orang berbaju
mewah dan
 perlente, ke arah mobil-mobil yang mengkilat dan ke
arah
 wajah penuh air mata yang tampak seperti wajahnya
sendiri
 ketika ia masih muda.

 "Mama.. ..", ia mendengar suara itu, dan ia tahu
 bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara waras
dan
 tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak -
kini
 menjadi kenyataan.
 Ia tersenyum, dan dengan seluruh kekuatann ya
menarik lagi
 jiwanya yang akan lepas.

 Perlahan ia membuka genggaman tangann ya, tampak
sebentuk
 anting-anting yang sudah menghitam.
 Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli
sekelilingnya ia
 berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan
kepalanya di
 dada mamanya.

 "Mama, say a tinggal di istana dan makan enak tiap
 hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau
bisa
 kita lakukan bersama-sama.
 Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya,
apapun
 bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu...
 Mama..."

 Ketika telinganya menangkap detak jantung yang
melemah, ia
 berdoa lagi kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan
 pemberi, Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam
 saja....."

 Tapi dada yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja
dan
 puluhan orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang
 menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad
tidak
 berakhir sia-sia.

 Teman....mungkin saat ini kita sedang beruntung.
Hidup
 ditengah kemewahan dan kondisi berkecukupan. Mungkin
kita
 mendapatkannya dari hasil keringat sendiri tanpa
bantuan
 orang tua kita. Namun yang perlu kita sadari, bahwa
orang
 tua kita senantiasa berdoa untuk kita, meski itu
hanya di peraduan

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda